KOLABORASI SULAP DAN KEKERASAN (dengan teori kultivasi)

Siapa sih yang tidak kenal Limbad? Ya, dia adalah seorang runner up “The Master”, yakni salah satu acara yang ditayangkan di RCTI yang merupakan ajang pencarian pesulap berbakat diseluruh Indonesia. Ada salah satu episode yang menayangkan pengkolaborasian antara Limbad dan Rommy Rafael yang mengajak salah seorang penonton untuk naik ke atas panggung. Ketika di atas panggung, rommy rafael menunjukkan kebolehannya dengan menghipnotis penonton tersebut untuk mensugestikan bahwa tangan penonton tersebut beku mati rasa sehingga tidak dapat merasakan apa pun. Setelah itu, Limbad mulai beraksi dengan menusukkan jarum-jarum ke tangan penonton tersebut. Namun, penonton tersebut tetap tertidur pulas dan tidak merasakan apa-apa. Lalu, jarum-jarum yang tadi ditusukkan ke penonton tersebut dicabut kembali tanpa mengeluarkan darah. Setelah itu, rommy Rafael membangunkan kembali penonton tersebut. Dan penonton tersebut tidak menyadari apa yang baru saja dilakukan limbad terhadap dirinya.

Saya yakin sulap sangat digemari oleh berbagai kalangan dari berbagai usia. Terbayang jika yang menonton acara tersebut adalah anak-anak. Seorang individu yang masih polos seperti sehelai kertas kosong yang akan diisi oleh tinta. Mungkin ia akan meniru apa yang telah dilakukan limbad kepada orang lain. Kekerasan terhadap orang lain. Apalagi ketika Limbad melakukannya, ia tidak meminta izin terlebih dahulu kepada penonton tersebut. Kekerasan yang terjadi dalam hal ini lebih parah karena tidak adanya izin dari objek yang dijadikan kekerasan. Selain itu, terbukti bahwa kini banyak orang yang “tersulap” juga untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan dalam acara the master yang ditayangkan RCTI tersebut. Buktinya adalah ada beberapa orang di kelas kuliah Saya yang mengikuti jejak-jejak para pesulap yang ada di the master. Misalnya yang paling sering adalah dengan menggunakan kartu.

Bukan tayangan kekerasan dengan kedok “extreme magic” yang saya yakin, akan membuat anak mencoba apalagi bila sampai mengidolakan limbad, akan meniru seperti pengalaman kita semua tentang controversial tayangan smackdown.. Semenetara kurang setuju atraksi Limbad dikategorikan ke dalam Extreme magic, terutama bila ditampilkan di Indonesia yang dimana orang sudah pernah melihat beberapa diantaranya di seni tradisional, debus diantaranya. Banyak permainan yang bertema extreme magic seperti beberapa tokoh extreme magic, sebut saja “Robert gallup”, “Dirk Arthur”, Lance Burton, bahkan David Coperfield pun melakukan Extreme magic, tanpa ada unsur kekerasan.

Kultivasi melihat kontribusi terhadap konsepsi realitas social bukan sebagai proses ’push’ monolitis satu arah, melainkan sebagai proses gravitasional dengan sudut pandang dan arah ’pull’ yang bergantung pada tempat kelompok pemirsa dan gaya hidup mereka sejajar dengan referensi garis gravitasi, mainstream dunia televisi. Jadi, kultivasi adalah proses interaksi di antara pesan, audiens, dan konteks, yang terus berlangsung, kontinyu, dan dinamis (Bryant, J & D Zillmann : 2002).

Para pecandu berat televisi akan menganggap bahwa apa yang terjadi di televisi itulah dunia senyatanya. Misalnya, menanggapi perilaku kekerasan yang terjadi di masyarakat. Para pecandu berat televisi akan mengatakan bahwa sebab utama munculnya kekerasan karena masalah sosial (karena televisi yang sering ia tonton sering menyuguhkan berita dan kejadian dengan motif kekerasan). Padahal bisa jadi sebab utama itu lebih karena faktor cultural shock dari tradisional ke modern.

Gerbner berpendapat bahwa media massa menanamkan sikap dan nilai tertentu. Media mempengaruhi penonton dan masing-masing penonton meyakininya. Dengan kata lain pecandu berat televise mempunyai kecenderungan sikap yang sama satu dengan lainnya. Televisi, sebagaimana diteliti oleh Garbner. Dianggap sebagai pendominasi “lingkungan simbolik” seseorang. Teori kultivasi menganggap bahwa televisi tidak hanya disebut sebagai jendela atau refleksi kejadian sehari-hari disekitar kita, tetapi dunia itu sendiri (McQuail dan Windahl, 1993). Garbner juga berpendapat bahwa gambaran adegan kekerasan di televisi lebih merupakan pesan simbolik tentang hukum dan aturan. Dengan kata lain perilaku kekerasan yang diperlihatkan di televisi merupakan refleksi kejadian disekitar kita. Jika adegan kekerasan itu merefleksikan aturan hokum yang tidak bisa mengatasi situasi seperti yang digambarkan dalam adegan televisi , bisa jadi yang terjadi sebenarnya juga begitu. Jika kita menonton acara seperti Buser, Patroli Sidik, dll. Di sana terlihat beberapa perilaku kejahatan yang dilakukan masyarakat, Dalam prespektif kultivasi adegan yang terjadi dalam acara-acara itu menggambarkan dunia kita yang sebenarnya. Bahwa di Indonesia kejahatan itu sudah demikian luas dan mewabah. Acara itu menggambarkan dunia kejahatan yang sebenarnya yang ada di Indonesia. (Nurudin, Komunikasi Massa:2003)

Tuduhan munculnya kejahatan di dalam masyarakat disebut dengan “sindrom dunia makna”. Pecandu berat televisi memandang dunia sebagai tempat yang buruk, tidak demikian dengan pandangan pecandu ringan. Efek kultivasi memberikan kesan bahwa televisi mempunyai dampak yang sangat kuat pada diri individu. Mereka beranggapan bahwa lingkungan sekitarnya sama seperti yang tergambar di televisi.

2 Comments »

  1. Marshall Malik Said:

    ha..3x!
    itu mah ga ditusuk beneran, sob.
    g ada luka dan ga ada sakit.
    semuanya bohong (kecuali hipnotisnya).
    kapan2 aq main ya di depan km.

    tp emang salah sih. klo dtiru jg bahaya sih..

    • chaluchu Said:

      yaaa.tpi klo yang namanya anak-anak maah,mana ngerti mereka..
      hanya segolongan orang tertentu yang mengerti…


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: