Wajah Ceria di Balik Payung

Wajah Ceria di Balik Payung

Musim hujan? Musibah atau rezeki? Yah siapa pun itu, kita tak boleh mengatakan bahwa hujan merupakan sebuah musibah sebab itu merupakan anugrah Tuhan Yang maha Esa yang telah memberikan kita air dari langit. Bisa kita bayangkan jika Tuhan tidak menurunkan hujan. Petani-petani akan kehilangan ladangnya. Dan kita pun tak dapat menikmati keseharian kita karena udara yang begitu kering. Anggap saja kita berada disebuah gurun pasir dengan cuaca terik dengan tingkat hujan yang amat rendah.

Memang untuk sebagian warga, musim hujan agak sedikit membawa kerugian. Curah hujan yang tinggi membuat bencana alam banjir ataupun tanah longsor. Telah kita lihat di berita bahwa telah terjadi banjir di berbagai daerah akibat hujan yang begitu deras. Terutama bagi warga Jakrata. Bagi mereka banjir merupakan tradisi yang sudah biasa jika musim penghujan dating. Sehingga mereka dapat mengantisipasi datangnya banjir sebelumnya sehingga kerugian yang dialami dapat ditekan. Lain halnya jika musibah itu tak dapat diperkirakan seperti musibah tanah longsor di daerah Cianjur,Jawa Barat. Tak sedikit yang mengalami kesedihan. Sedikitnya 77 rumah warga yang rusak berat dan ringan akibat bencana tersebut. Beberapa orang mengalami luka-luka dan telah ditemukan lebih dari 5 orang tewas akibat bencana tersebut (sumber:pikiran rakyat,17/11/08). Selain itu, banjir yang melanda daerah Jakarta membuat reputasi kota penghujan Bogor agak sedikit dikomentari warga sekitar Jakarta yang dilalui oleh sungai yang berasal dari kota Bogor. Sehingga tak jarang bahwa banjir di beberapa daerah di kota Jakarta merupakan “kiriman atau hadiah dari Bogor “. Benarkah seperti itu?

Namun disisi lain, bagi perngusaha paying atau jas hujan, musim penghujan merupakan musim pembawa rezeki. Omset penjualan pastinya akan bertambah karena setiap orang akan memerlukan paying atau jas hujan untuk menangani hujan yang melanda. Ketika saya sedang berteduh karena hujan di salah satu mall di kota Bandung, banyak sekali anak-anak yang menawarkan jasa penyewaan paying atau yang sering kita sebut dengan “ojek payung “ . Bagi mereka, menjadi ojek payung menjadi kesenangan tersendiri. Ojek payung bukan merupakan suatu beban bagi mereka. Saat berteduh itu, saya iseng bertanya kepada salah satu bocah ojek payung “de, knp c jadi ojek payung?”. Lalu ia menjawab “ gak kenapa-kenapa the, biar punya tambahan uang”. Kemudian saya bertanya lagi “ orang tua tau gak klu ade ngojek payung gini?”. Kemudian ia menjawab “ga tau teh. Saya bareng temen-temen ajah, skalian maen-maen aja biar dapet duit teh”. Bagi mereka, menjadi ojek payung menjadi salah satu ladang rezeki yang mungkin dapat menambah uang saku mereka. Bayangkan saja, wajah bocah-bocah yang menjadi ojek payung tak menampakan suatu kesedihan. Mereka tertawa, mereka menikmati pekerjaan tersebut agar tak membebani orang tua mereka. Menawarkan jasa payung mereka tawarkan kepada setiap pengunjung dengan sabar. Mereka rela berhujan-hujan ketika payung mereka digunakan oleh pengunjung yang menyewajasa mereka agar mereka mendapatkan uang. Mungkin bagi seorang anak atau remaja yang berkecukupan, saat musim hujan, suasana sangat mendukung untuk berada dikasur di bawah selimut atau mungkin menyantap hidangan yang hangat untuk mengatasi dinginnya musim hujan. Tapi bagi seseorang yang kurang berkecukupan, musim hujan mereka gunakan untuk mencari rezeki. Sungguh, ketika saya memandangi anak-anak tersebut, tak ada beban hidup yang mereka tampakkan. Namun mungkin jauh dilubuk hati mereka, mereka tidak ingin kehidupan yang sperti itu. Mereka pun ingin menikmati ketika hujan, mereka dapat berada di bawah selimut, menikamti kedinginan dalam kehangatan. Kondisi ekonomi dapat mendorong siapapun agar mereka dapat memenuhi hasrat yang mereka inginkan. Bocah-bocah kecil itu mungkin ingin memiliki sedikit uang tambahan karena mereka tak ingin membebani orang tua mereka karena kondisi financial ekonomi yang tak mendukung. Namun, siapa yang tahu hati manusia? Hanya tuhan yang tahu.

2 Comments »

  1. Shell Said:

    Aq jd t’haru, cha..
    Btw, aq jd t’ingat ttg sbuah cerita. Km udh pnah dgr g’? Aq udh agk lupa2 jg, sh..
    Ceritanya gini, ada seorang ibu yg udh cukup tua n hidupnya sgt melarat. Suaminya udh g ad, n dia g punya apa2 lg, kecuali 2 org ank laki2. Anaknya yg ptama, hanyalah seorang pjual payung. Sdgkn, anknya yg ke2 hanyalah seorang penjual es krim. Namun, sepanjang tahun, ibu ini selalu bsedih dan sering menangis meratapi nasib kdua anaknya. D musim kemarau, ibu itu bersedih krn sdikit org atau bahkan tidak ada org yg ingin mbeli payung pada anak ptamanya. Sdgkn, pd musim hujan, ibu itu slalu bsedih krn es krim yg djual ank ke-2 nya jarang laku atau bhkn tdk laku. Ibu itu slalu bdoa kpd Tuhan, smbil bcucuran air mata, ia slalu mminta jalan yg tbaik u/ keluarganya itu. Hingga akhrnya, suatu ketika ibu itu tsadar, bahwa sesungguhnya Tuhan itu Maha Adil n Maha Menyayangi hamba2_Nya. Ibu itu tnyata telah lupa suatu hal, bahwa sepanjang tahun, Allah slalu memberikan rahmat kpd mereka. Ibu itu baru ingat, Allah slalu memberi rejeki pada anknya yg yg ptama, krn payung yg dijual oleh anknya itu slalu habis tjual d musim hujan. Sdgkn anknya yg kdua slalu tlihat bahagia ktika musim kmrau tiba, krn dagangan es krimnya sgt banyak yg menyukai.
    Jd, btul kt km, kt hrus slalu bsyukr n slalu bpikiran positif.

  2. chaluchu Said:

    nice story sob..
    menginspirasi bgt..🙂

    btw, really nice if u post that post in ur blog..
    :))


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: