Teori Komunikasi PERSEPSI

Pengertian persepsi

Secara umum, persepsi adalah proses internal kita memilih mengevaluasi dan mengorganisasikan stimuli dan lingkungan kita. Definisi persepsi lainnya:

Persepsi sebagai proses yang memungkinkan suatu organism menerima dan menganalisis informasi ( Brian Fellows )

Persepsi adalah pengamatan tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan ( Rakhmat )

Persepsi adalah proses menafsirkan informasi indrawi ( Rudolp F.Verderber )

Sebenarnya kita tidak pernah punya kontak langsung dengan relaitas. Segala sesuatu yang kita alami adalah hasil dari sistem syaraf kita. Ketika para ahli fisika meneliti fenomena alam, atau ketika insinyur menguji mesin, persepsi mereka boleh jadi mendekati akurat. Namun ketika mereka berkomunikasi dengan manusia, baik dengan sesama ilmuwan atau bahkan dengan pasangan hidup mereka masing-masing, persepsi mereka mungkin kurang atau bahkan tidak cermat karena berdasarkan motif, perasaan, nilai, dan kepentingan dan tujuan yang berlainan.

Asumsi-asumsi mengenai persepsi

  • Pola-pola prilaku berdasarkan persepsi mereka mengenai realitas yang telah dipelajari
  • Oleh karena perbedaan biologis dan pengalaman yang berbeda, tidak ada individu yang mempersepsi realias persis sama
  • Semakin tinggi derajat kesamaan persepsi individu, maka semakin mudah untuk berkomunikasi
  • Factor-faktor lingkungan biologis berubah
  • Adanya feed back yakni mekanisme untuk mengukur ketepatan persepsi

Menurut Kenneth K. Sereno dan Edward M Bodaken , persepsi terdiri dari tiga aktivitas, yaitu seleksi, organisasi dan interpretasi. Seleksi sendiri mencakup sensasi dan atensi. Dan intrepretasi melekat pada organisasi. Dapat dirangkum sebagai berikut:

Dalam sensasi , melalui pengindraan kita mengetahui dunia. Sensasi merujuk pada pesan yang dikirimkan ke otak lewat penglihatan, pendengaran sentuhan, penciuman dan pengecapan. Segala macam rangsangan yang diterima kemudian dikirimkan ke otak.

Atensi tidak terelakkan karena sebelum kita merespon atau menfsirkan kejadian atau rangsangan apa pun, kita harus terlebih dahulu memperhatikan kejadian atau rangsangan tersebut. Ini berarti bahwa persepsi mensyaratkan kehadiran suatu objek untuk dipersepsi termasuk orang lain dan juga diri sendiri.

Tahap terpenting dalam persepsi adalah interpretasi atas informasi yang kkta peroleh melalui salah satu atau lebih indera kita. Namun kita tidak bisa menginterpretasikan makna setiap objek secara langsung, melainkan menginterpreatasikan makna yang kita percayai mewakili objek tersebut. Jadi pengetahuan yang diperoleh melalui persepsi bukan pengetahuan mengenai objek sebenarnya, melainkan pengetahuan  mengenai bagaimana tampaknya objek tersebut.

Faktor- factor yang mempengaruhi persepsi

Dalam membentuk persepsi, pemikiran-pemikiran yang ada di pengaruhi oleh factor-faktor dari eksternal dan factor internal yang mempengaruhi persepsi itu sendiri.

Faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi

  • Gerakan
  • Intensitas stimuli
  • Perulangan objek yang dipersepsi
  • Kontras
  • Prinsip kedekatan atau persamaan

Faktor internal yang mempengaruhi persepsi

  • Gender
  • Biologis
  • Fisiologis
  • Sosio-psikologis
  • Sikap
  • Kebiasaan
  • Kemauan

Jenis Persepsi Manusia

Persepsi manusia sebenarnya terbagi dua yakni persepsi objek (lingkungan fisik) dan persepsi terhadap manusia. Persepsi manusia lebih sulit dan kompleks karena manusia berdifat dinamis. Persepsi terhadap lingkungan fisik berbeda dengan persepsi terhadap lingkungan sosial. Perbedaan tersebut mencakup hal-hal sebagai berikut :

¨      Perbedaan persepsi terhadap objek dengan persepsi sosial

  1. Persepsi terhadap objek melalui lambing-lambang fisik sedangkan persepsi terhadap orang melalui lambing-lambang verbal dan nonverbal. Manusia lebih aktif daripada kebanyakan objek dan lebih sulit diramalkan
  2. Persepsi terhadap objek menanggapi sifat-sifat luar sedangkan persepsi terhadap manusia menanggapi sifat-sifat luar dan dalam. ( perasaan, motif, harapan dan sebagainya ). Kebanyakan objek tidak mempersepsi kita ketika kita mempersepsi objek. Akan tetapi manusia mempersepsi kita pada saat kita mempersepsi mereka. Dengan kata lain persepsi terhadap manusia lebih interaktif.
  3. Objek tidak bereaksi, sedangkan manusia bereaksi. Dengan kata lain obek bersifat statis sedangkan manusia bersifat dinamis. Oleh karena itu persepsi terhadap manusiadapat berubah dari waktu ke waktu, lebih cepat daripada persepsi terhadap objek. Dan oleh karena itu juga, persepsi terhadap manusia lebih beresiko daripada terhadp objek.

 

¨      Persepsi terhadap objek ( lingkungan fisik )

Dalam mempersepsi lingkungan fisik, kita terkadanga melakukan kekeliruan. Kondisi mempengaruhi kita terhadap suatu benda. Misalnya ketika merasa kepanasan di tengah gurun. Kita tidak jarang akan melihat fatamorgana. Ketika kita disuruh mencicipi suatu masakan, mungkin pendapat kita akan berbeda dengan orang lain karena kita memiliki persepsi yang berbeda.

Latar belakang pengalaman, budaya dan suasana psikologis yang berbeda membuat persepsi kita juga bereda atas suatu objek.

¨      Persepsi terhadap manusia ( persepsi sosial )

Proses menangkap arti objek-objek sosial dan kejadian yang kita alami dalam lingkungan kita

Manusia selalu memikirkan orang lain dan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya, dan apa yang orang pikirkan mengenai apa yang ia pikirkan mengenaioranglain itu dan seterusnya

( R.D Laing )

Kita mempersepsi orang melalui:

  1. Proxemics : jarak ketika orang berkomunikasi
  2. Kinesis      : Gerakan, isyarat
  3. Petunjuk wajah : sedih, senang
  4. Paralinguistik : dialek, bahasa, intonasi
  5. Artifaktual

 

 

Beberapa prinsip penting mengenai persepsi sosial yang menjadi pembenaran atas perbedaan persepsi sosial ini adalah sebagai berikut :

 

Persepsi berdasarkan pengalaman

Pola-pola prilaku manusia berdasarkan persepsi mereka mengenai realitas (sosial) yang telah dipelajari. Persepsi manusia terhadap seseorang, objek atau kejadian dan reaksi mereka trehadap hal-hal itu berdasarkan pengalaman masa lalu. Salah satu contoh bahwa persepsi berdasarkan pengalaman yakni misalnya komunitas inggris tidak mengenal ucapan “Mohon Maaf Lahir Bahin” yang biasanya disampaikan Muslim Indonesia setiap Idul Fitri. Pantaslah ketika seorang muslim Indonesia pada waktu sedang study S2 di London mengatakan “ Please forgive me” atau semacamnya, mereka bertany dengan heran “For What?”

Persepsi bersifat dugaan

Proses persepsi yang bersifat dugaan itu memungkinkan kita menafsirkan suatu objek dengan makna yang lengkap dari suatu sudut pandang manapun.. oleh karena informasi lengkap yang tak pernah tersedia, dugaan diperlukan untuk membuat kesimpulan berdasarkan informasi yang tidak lengkap lewat penginderaan itu.

 

Persepsi bersifat evaluative

Tidak ada persepsi yang pernah objective. Dengan demikian persepsi bersifat pribadi dan subjective.

Persepsi pada dasarnya mewakili keadaan fisik dan psikologi individu alih-alih menunjukkan karakteristik dan kualitas mutlak objek yang dpersepsi “

( Andrea L.Rich )

Tidak seorang pun mempersepsi suatu objek tanpa mempersepsi seberapa baik atau buruk objek tersebut.

Persepsi bersifat kontekstual

Rangsangan dari luar harus diorganisasikan. Dari semua pengaruh dalam persepsi kita, konteks merupakan salah satu pengaruh paling kuat. Konteks rangsangan sangat mempengaruhi struktur kognitif, pengharapan dan oleh karenanya persepsi kita.

 

Dalam mengorganisasikan objek, yakni meletakkannya dalam suatu konteks tertentu, kita menggunakan prinsip-prinsip berikut:

Prinsip Pertama : struktur objek atau kejadian berdasarakan prinsip kemiripam atau kedekatan dan kelengkapan. Secara lebih spesifik, kita cenderung mempersepsi rangsangan yang terpisahsebagai berhubungan sejauh rangsagan-rangsagan itu berdekatan satu sama lainnya, baik dekat secara fisik ataupun dalam urutan waktu, serta mirip dalam bentuk, ukuran, warna dan atribut lainnya. Dalam konteks penerimaan pesan, kita cenderung melengkapi pesan yang tidak lengkap dengan bagian-bagian (dugaan-dugaan) yang terkesan logis untuk melengkapi pesan tersebut.

Prinsip kedua : kita cenderung mempersepsi suatu rangsangan atau kejadian yang terdiri dari objek dan latar belakangnya. Lingkungan fisik dapat menyediakan begitu banyak rangsangan, namun pola yang kita persepsi dalam lingkungan tersebut merupakan “ciptaan” kita sendiri.

 

Mengapa persepsi sering keliru?

  • Kesalahan atribusi

Atribusi adalah proses internal dalam diri kita untuk memahami penyebab prilaku orang lain. Dalam usaha mengetahui orang lain, kita menggunakan beberapa sumber informasi. Misalnya kita memperhatikan penampilan fisik mereka. Factor seperti usia, gaya, pakaian, dan daya tarik dapat memberikan isyarat mengenai sifat-sifat utama mereka.

Kesalahan atribusi bisa terjadi ketika kita salah menaksir makna atau pesan yang dimaksud perilaku pembicara. Perbedaan budaya semakin mempersulit kita untuk menaksir pesan seseorang.

Atribusi kita juga keliru bila kita menyangka bahwa perilaku seseorang disebabkan oleh factor internal, padahal justru factor eksternal-lah yang menyebabkannya atau sebaliknya kita menduga factor eksternal yang menggerakan seseorang.

  • Efek halo

Merujuk pada fakta bahwa kesan menyeluruh pada seseorang cenderung menimbulkan efek yang kuat atas penilaian kita.

Kesan menyeluruh itu sering kita peroleh dari kesan pertama, yang biasanya berpengaruh kuat dan sulit digoyahkan

  • Stereotipe

Menggeneralisasikan orang-orang berdasarkan sedikit informasi dan membentuk asumsi mengenai orang lain berdasarkan keanggotaannya dalam suatu kelompok.

Pada umunya stereoti[e bersifat neagtif. Stereotype tidak berbahaya sejauh kita simpan di kepala. Pengkategorian atas orang lain memang tidak terhindarkan karena manfaat fungsionalnya. Stereotype menyebabkan persepsi selektif tentang orang-orang dan segala sesuatu disekitar kita.

kita tidak melihat dulu, lalu mendefinisikan, tetapi kita mendefinisikan dulu baru melihat. Kita diberitahu mengenai dunia sebelum kita melihatnya. Kita membayangkan kebanyakan hal sebelum kita mengalaminya. Dan prakonsepsi itu sangat mempengaruhi keseluruhan proses persepsi” ( Lippmann )

  • Prasangka ( Prejudice )

Suatu penilaian berdasarkan keputusan atau pengalaman terdahulu.

Prasangka merupakan konsekuensi dari stereotype.

pikiran berprasangka selalu menggunakan citra mental kaku yang meringkas apa pun yang dipercayai sebagai khas suatu kelompok. Citra demikian dinamakan stereotype” (Ian Robertson)

Prejudice berasal dari kata latin “Praejudicium” yang berarti preseden. Sebagiamana stereotype, prasangka ini alamiah dan tak terhindarkan. Hanya saja prasangka yang berlebihan dapat menghambat komunikasi. Kita biasanya lebih menyukai orang yang punya persamaan atau mirip dengan diri kita. Orang berprasangka cenderung mengabaikan informasi yang tidak sesuai dengan generalisasi mereka yang keliru dan kaku itu.

  • Gegar Budaya

Gegar budaya adalah suatu bentuk ketidakmampuan menyesuaikan diri yang merupakan reaksi terhadap upaya sementara yang gagal untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan orang-orang baru (Lundstedt)

Geger budaya pada dasarnya merupakan bentuk benturan persepsi yang diakibatkan penggunaan persepsi berdasarkan factor-faktor internal (nilai-nilai budaya) yang telah dipelajari orang yang bersangkutan dalam lingkungan baru yang nilai-nilai budayanya berbeda dan belum ia pahami.

Berbagai penelitian empiris menunjukkan bahwa gegar budaya sebenarnya merupakan titik pangkal untuk mengembangkan kepribadian dan wawasan budaya kita, sehingga kita dapat menjadi orang-orang yang luwes dan terampil dalam bergaul dengan orang-orang dari berbagai budaya, tanpa harus mengorbankan nilai-nilai budaya kita sendiri.

Hubungan antara persepsi dan komunikasi

Setelah mempelajari hal-hal dalam persepsi, lalu bagaimankah hubungan antara persepsi dan komunikasi. Dapat dijelaskan bahwa makna merupakan jantungnya komunikasi dan persepsi itu mempertajam komunikasi. Persepsi merupakan inti dari komunikasi sebab jika persepsi tidak akurat, maka komunikasi tidak akan berjalan secara efektif. Selain itu,akan menentukan kita memilih pesan dan mengabaikan pesan lain dan pastinya setiap orang memiliki persepsi yang berbeda.

 

Daftar Pustaka

Mulyana, Dedi. 2008. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

http://www.ensiklopedia-Indonesia.com

3 Comments »

  1. dwi siamintarsih Said:

    tksh. belum paham bedanya dengan asumsi.

  2. dwi siamintarsih Said:

    tksh


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: