“Dayeuh Kolot” , ya sebuah kota di salah satu pinggiran kota Bandung. Tidak..mungkin memang sudah masuk ke dalam wilayah kabupaten Bandung, siapa yang tidak mengenal wilayah tersebut. ‘Daerah banjir’, ‘daerah macet’,'jauh dari kota’,'airnya kotor’, ya..itulah kalimat-kalimat yang sering kita dengar dari mulut masyarakat yang tinggal di daerah kota mengenai ‘Dayeuh Kolot’. Kita akan mulai terbayang mengenai daerah-daerah kotor yang tidak terurus seperti dipinggiran kota. Bagaimana anak-anak sekolah dapat berkembang disana dan bagaimana mereka bermain krena lahan dan daerah-daerah yang sudah banyak dijadikan daerah industri dan kawasan pendidikan serta dijadikan usaha tempat kost. Namun siap sangka daerah yang cukup sempit untuk dijadikan ruang gerak tidak mematikan berbagai aktifitas dan kreatifitas dari anak-anak untuk terus berkarya dan bermain mewujudkan impian mereka di masa depan.
Suatu hari, dalam rangka mengerjakan tugas kuliah, saya menelusuri kawasan di dayeuh kolot itu. Kemudian disatu gang di kawasan jalan telekomunikasi terusan buah batu, terdengar gelak tawa dari anak-anak. Perlahan saya mendekati sumber suara tersebut,ternyata ada segerombolan anak-anak yang sedang bermain engrang. Terlihat dari senyum dan tawa anak-anak tersebut, mereka terlihat bahagia bermain diruang yang sempit itu. Kreasi mereka untuk terus bermain dan menciptakan suatu permainan terus diasah. Dibandingkan dikota, anak-anak jaman sekarang seperti tidak pernah merasakan yang namanya masa kanak-kanak. Anak-anak yang hidup ditengah kota, ditengah era globalisasi cenderung memilih bermain di dalam mall, menonton di bioskop bahkan mungkin berkutat di depan komputer atau warnet untuk terus meng’update‘ status dijejaring sosial. ya.itulah anak-anak jaman sekarang. Walau nama daerah dayeuh kolot sering dinilai negatif, namun ternyata tidak begitu. Anak-anak dapat terus bermain.
Pada hari berikutnya, saya melihat anak-anak bermain bola di tengah gang yang sempit. Mereka tidak memiliki wilayah untuk bermain di lapangan yang luas, bahkan di stadion sekalipun. Namun anehnya ketika saya bertanya pada mereka ‘ade-ade pada pengen jadi pemain bola ya?’, dengan wajah polos mereka menjawab ‘engga teh,cuma ingin bermain dan yang penting senang’. hmm…cukup aneh untuk jawaban seorang anak yang kira-kira beurmur 7 atau 8 tahun. Namun mungkin siapa sangka beberapa tahun ke depan, mereka bisa berkembang menjadi seorang pemain sepak bola yang handal dan bisa membawa negara Indonesia menuju piala dunia. Who Knows???
Kreatifitas yang dimiliki seorang anak tidak akan dapat tertahan oleh siapapun dan kapanpun. Karena pada nantinya, mereka akan memiliki suatu bakat yang akan muncul. Tak peduli mereka tinggal di Kota atau di pinggiran kota. Yang membedakan hanyalah pola pikir. Kehidupan kota yang selalu dimanjakan oleh teknologi yang serba cepat membuat otak manusia tidak berkembang karena mereka tidak memikirkan suatu cara untuk keluar dari suatu kesulitan dan sebaliknya kehidupan yang keras dipinggiran kota membuat manusia semakin berpikir kreatif untuk menghadirkan sesuatu yang baru. Jadi jangan pernah menyepelekan anak-anak yang sering dibilang ’ndeso’.
:p










